WAJAH PERADABAN BARAT
Siapa
yang menjadi pemimpin peradaban dunia sekarang? Siapa yang menjadi
rujukan dalam segala sisi kehidupan manusia zaman sekarang (termasuk
pola fikir, perasaan bangga, dan perilaku)? Apa yang menjadi panduan
keberhasilan atau kesuksesan yang selalu dijadikan rujukan manusia
zaman sekarang? Siapa yang menjadi idola anak-anak kita, remaja,
bahkan orang tua zaman sekarang? Bahkan apa yang menjadi rujukan
Sistem Pendidikan, Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya,
Pertahanan dan Keamanan? Jawabannya adalah...'Peradaban Barat'.
Terlepas
dari keberhasilan barat dalam sisi fisik-materialistik yang telah
dicapai selama ini (yang membuat hampir seluruh umat manusia takjub
dan silau), sesungguhnya peradaban barat sekarang ini berada pada
titik nadir menuju kehampaan dan kehancurannya sendiri. Tulisan ini
saya sarikan dari berbagai rujukan terutama dari buku Wajah Peradaban
Barat karya Adian Husaini. Saya akan mencoba untuk mengetengahkan
pemikiran para sarjana muslim maupun sarjana barat sendiri dalam
menggali dan mengkaji asal-usul dan ekses yang timbul bila kita
mengacu pada sebagian atau bahkan keseluruhan worldview
peradaban barat.
Dalam
tulisan ini saya tidak berusaha untuk menggiring ke pemikiran anti
Barat, namun lebih mengingatkan kita akan jati diri kita sehingga
kita lebih hati-hati dalam menghadapi perubahan yang terjadi (arus
globalisasi) yang mau tidak mau akan kita alami, terutama bagi para
pelajar dalam mempersiapkan diri untuk menjadi generasi para pemimpin
masa depan.
Dalam
tulisan yang pertama saya akan memulai dengan pemikiran para sarjana
muslim dan dilanjutkan dengan para sarjana barat sendiri.
Abul
Hasan Ali an-Nadwi
Peradaban
Barat adalah kelanjutan peradaban Yunani dan Romawi yang telah
mewariskan kebudayaan politik, pemikiran, dan kebudayaan. Kebudayaan
Yunani, yang menjadi inti kebudayaan barat, memiliki sejumlah
'keistimewaan', yaitu :
Kepercayaan yang berlebihan terhadap kemampuan panca indra dengan
meremehkan hal-hal yang diluar panca indra.
Kelangkaan rasa keagamaan dan kerohanian.
Sangat menjunjung tinggi kehidupan duniawi dan menaruh perhatian
yang berlebihan terhadap manfaat dan kenikmatan hidup.
Memiliki kebanggaan patriotisme.
Semua itu dapat diringkas dalam satu kata, 'materialisme'. Peradaban Romawi yang menggantikan peradaban Yunani memiliki keunggulan dalam hal kekuatan, tata pemerintahan, luasnya wilayah, dan sifat-sifat kemiliteran. Romawi kemudian mewarisi peradaban Yunani sampai ke akar-akarnya, sehingga Bangsa Romawi tidak lagi berbeda dengan Yunani dalam karakteristik dasar. Keduanya memiliki persamaan besar: mengagungkan hal duniawi, skeptis terhadap agama, lemah iman, meremehkan ajaran dan praktik keagamaan, fanatik kebangsaan, serta patriotisme yang berlebihan. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Romawi tidak memiliki kepercayaan keagamaan yang mantap. Sejak semula mereka telah mengembangkan paham sekuralisme yang menganggap Tuhan tidak berhak memasuki urusan politik maupun urusan keduniaan lainnya.
bersambung...
Posting komentar anda terhadap artikel ini, di sini (
Dilarang menggunakan kata-kata yang tidak sopan)
Posting yang masuk:
|
tanggal
|
nama
|
rank
|
komentar
|
|
Sabtu, 20 Maret 2010
|
lisnawati
|
1
|
subhanallah pa sangat mengesankan dan mencerahkan continue atuh pa. . .
|
|
Senin, 1 Maret 2010
|
pejuang
|
1
|
Waduh pa...singkat sekali.. ditunggu kelanjutannya
|
|
Senin, 1 Maret 2010
|
pejuang
|
1
|
Waduh pa...singkat sekali.. ditunggu kelanjutannya
|