Untaian Makna Berkah
Ternyata dalam ingatan kita makna berkah memiliki porsi tersendiri . Saat kata berkah hadir dalam sebuah percakapan, misalnya, tiba-tiba dalam memori kita muncul gambar sebuah keberlimpahan yang bersifat murni kehendak Ilahi. Berkah berupa rezeki: gambar yang segera timbul di benak kita adalah materi yang banyak, berlimpah ruah, atau setidaknya uang yang punya manfaat berlipat. Berkah berupa ilmu: memori kita seakan melayang ke sosok yang pengetahuannya banyak berguna bagi masyarakat.
Sebaliknya, rezeki tidak berkah atau ilmu tidak berkah mengingatkan kita akan sebuah ketidakbergunaan dan kesia-siaan. “Rezekinya tidak berkah. Lihat saja, meski berduit, anak-anaknya badung,” begitu kata orang. “Ia pandai, tapi ilmunya tidak berkah. Buktinya, pikiran-pikirannya sesat, menyeleweng dari syariah, bahkan kesohor jadi koruptor,” ini juga ungkapan yang biasa terdengar.
Ingatan kita tentang berkah, yang berasal dari kata البركة, seolah-olah ada begitu saja. Kita hampir tak pernah bertanya sejak kapan gambaran macam itu tumbuh di kepala. Barangkali, kita juga tidak menyadari bahwa kisah tentang berkah yang disampaikan kepada kita selalu yang itu-itu juga. Kisah Rasulullah di masa Perang Tabuk ini, contohnya. Syahdan, para Sahabat dilanda kekurangan bahan makanan. Mereka pun mengusulkan kepada Rasulullah, “Ya Rasul, izinkanlah kami menyembelih unta-unta itu untuk kami makan.” Rasulullah langsung saja mengiyakan. “Lakukanlah,” kata beliau. Tapi, Umar bin al-Khaththab tiba-tiba bersuara. “Ya Rasul,” kata Umar, “kalau engkau mengizinkan maka semakin berkuranglah kendaraan kita. Tapi serulah mereka, para pasukan, untuk mengumpulkan sisa-sisa bekal. Lalu, berkatilah, doailah sisa-sisa bekal itu dengan doa berkah sehingga Allah benar-benarmenurunkan berkah”. Syukurlah, Rasulullah menyetujui usulan Umar. Beliau kemudian membentangkan selembar kulit. Dan diserulah para Sahabat untuk mengumpulkan sisa-sisa bekal mereka. Lalu satu orang memberikan segenggam sorgum. Datang seorang lagi membawa segenggam kurma. Yang lain-lain cuma mengumpulkan sedikit-sedikit saja. Hingga kemudian, terisilah bentangan kulit itu dengan sisa-sisa bekal yang tak banyak. Rasulullah segera memberi doa pada makanan itu dengan doa berkah. “Ambillah dengan masing-masing wadah kalian,” seru Rasulullah kemudian. Para pasukan pun segera mengambil wadah-wadah makanan mereka, dan mengisi semuanya hingga tak ada satu pun wadah yang kosong. “Mereka lalu menyantapnya hingga kenyang, dan itu pun masih meninggalkan sisa,” tutur Abu Sa’id Al-Khudri yang meriwayatkan hadis ini.
Kisah yang tercatat dalam Shahih Muslim ini menjadi kegemaran para mubalig saat berdakwah tentang berkah. Kisah-kisah serupa lain yang juga kerap diceritakan biasanya tentang Sahabat yang menyambut tamu. Sahabat tersebut semula hanya punya persediaan makan untuk dua orang, tapi karena berkah menjadi cukup untuk lima orang. Juga kisah tentang seorang Sahabat yang mendapat untung berlimpah dari dagangannya. Singkatnya, kisah-kisah ini menjadi “penjaga ingatan” kita tentang berkah: sebuah keberlimpahan murni dari Ilahi.
Dan kita nyaris tak tahu lagi bahwa البركة, kata yang kita terjemahkan menjadi berkah itu, bermula dari imaji tentang unta yang mendekam. Orang Arab dahulu jamak mengatakan برك البعير, unta itu mendekam. Biasanya, ketika unta kekenyangan setelah menghabiskan pakan, ia segera menekuk lututnya untuk kemudian mendekam di pepasiran dalam waktu yang lama. Atau ketika merasa badannya terlalu panas oleh sengatan matahari, ia pun segera turun ke air, dan mendekam di sana. Unta itu menetap di sana.
Imaji ini lalu berkembang, dan setiap sesuatu yang “mendekam” dan “menetap” diungkapkanlah dengan kata برك. Maka, tak heran jika البركة suka didefinisikan خيرات ثابتة , nikmat yang “menetap”. Keuntungan hasil perdagangan adalah sebuah nikmat, tapi dia tidak dikatakan berkah jika tidak “menetap” di sana. Jika muncul lalu hilang, itu berarti tidak berkah. Al-Zarqâni dalam syarahnya atas Muwaththa’ Imam Malik, dan tentu banyak ulama lain, sering kali menerangkan bahwa al-barakah berarti الثبوت واللزوم, menetap-di-sana, ada dan berlama-lama di sana.
Kemudian kita tahu al-barakah tak hanya diartikan الثبوت واللزوم tapi lebih dari itu:والزيادة النموُّ, bertumbuh dan bertambah. Sebuah nikmat yang murni Ilahi tak cukup hanya “menetap” saja, tapi “menetap dan terus bertumbuh”. Dan itulah berkah yang kita kenal. Keberlimpahan pun menjadi pandangan umum ulama-ulama saat menerangkan pengertian al-barakah. Ibnu Abbas menjelaskan al-barakah sebagai al-katsrah fi kulli khair, kelimpahruahan yang ada pada tiap nikmat baik. Al-Zarqâni juga mengutip pandangan ulama-ulama bahwa ¬البركة adalah الزيادة من الخير والكرامة, kenikmatan dan kemurahan yang bertambah-tambah.
Al-Quran sendiri ketika mau menggambarkan sebuah nikmat Ilahi yang meruah, juga memakai kata ba-ra-ka. Dalam al-Isrâ’ (17): 1, misalnya, disebutkan, “ المسجد الأقصى الذي باركنا حوله ”, Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya. Gambaran tentang Palestina yang mendapat nikmat karena nabi-nabi diturunkan di sana, dan sekaligus bertanah subur, disampaikan dengan kalimat “yang telah Kami berkati”.
Begitu juga saat menggambarkan tanah Syam yang subur, berkah menjadi bahasa-penyampai. Dalam al-Anbiya’ (21): 71 tercatat, “الأرض التي باركنا فيها”, sebuah negeri yang Kami berkati, untuk menunjuk Syam. Tentang Syam ini juga direkam dalam Saba’ (34): 18 dengan bahasa, “ القرى الذي باركنا”, negeri-negeri yang telah Kami limpahkan berkah padanya.
Dan gambaran-gambaran semacam ini tanpa kita sadari telah membentuk pikiran kita tentang berkah. Tahu-tahu, sudah ada begitu saja di kepala kita bahwa berkah adalah sebuah nikmat berlimpah yang murni Ilahi, tak tersentuh kekotoran manusiawi. Gambaran ini mau tak mau lalu memberi arah pada harapan-harapan kita. اللهم بارك لنا فيما رزقتنا … , ya Allah berilah berkah pada rezeki kami …. Berkah selalu memenuhi sudut-sudut kata dalam doa-doa kita.
Hilangnya Keberkahan
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(Q.S. Al-A'raaf : 96)
Bagi setiap insan pasti memiliki mimpi, cita-cita, serta keinginan terhadap keberkahan hidupnya. Dalam bingkai, porsi, status, profesi yang beragam, dan bahkan dalam lintas keyakinan sekalipun, keberkahan senantiasa diharapkan. Misalnya, seorang pejabat ingin berkah hidupnya agar jabatannya dapat langgeng bahkan terus naik. Seorang pedagang ingin dagangannya laris manis,berlimpah untung . Seorang petani ingin hasil pertaniannya bagus. Seorang guru juga ingin ilmunya diserap banyak murid-muridnya supaya dapat menjadi bekal kehidupan mereka kelak. Seorang pelajar ingin ilmunya bertambah serta lulus ujian, bahkan berprestasi, dan masih banyak lagi.
Fenomena keberkahan di atas, kalau kita teliti rata-rata baru sebatas berkah etimologis. Artinya baru sekedar ingin lebih dalam segala hal. Sehingga wajar kalau teknik memperjuangkan keberkahan tersebut dengan menghalalkan segala cara, tak kenal norma dan etika. Kita menyaksikan, mengapa jabatan yang tinggi, pekerjaan yang layak, uang banyak, rumah yang besar, istri yang jelita atau suami yang tampan, ilmu yang luas tidak mengangkat derajat pemiliknya? Malah menghinakannya? bukan kebahagiaan atau ketentraman yang diperoleh melainkan masalah dan malapetaka.
Akibat lain dari hilangnya keberkahan, kita saksikan di negeri kita sederet kejahatan dan tindakan tak bermoral semakin merajalela. Hutan dibabat hingga gunung-gunung menjadi gundul. Eksplorasi dan ekspolitasi sumber daya alam besar-besaran yang mengakibatkan banjir,longsor, gempa bumi, serta banyak sekali ekosistem yang terganggu bahkan punah. Lebih memalukan lagi, kejahatan dilakukan tidak hanya oleh orang-orang lapar tetapi justeru oleh kalangan elit, terpelajar dan bahkan pejabat tinggi Negara yang kita kenal dengan koruptor, pencuri uang Negara,penghisap darah rakyat sehingga negeri ini mendapat julukan Negara terkorup no 2 di Asia dan no 5 di dunia. Di sisi lain, kita juga menyaksikan beberapa kejahatan yang cukup membuat kita miris seperti mutilasi, prostitusi yang justeru banyak dilakukan oleh wanita-wanita yang berstatus nona dan pelajar.
Selain kejahatan local yang kita cermati di atas, kita juga saat ini mengenal kejahatan bangsa terhadap bangsa yang disebut hegemoni. Pejajahan bentuk baru yang tak kalah kejam dan rakusnya di bandingkan imperialis dan kapitalis tempo dulu. Lihat, bagaimana Amerika Serikat menyerang dan membombardir Afganistan da Irak, dengan ratusan ribu korban wanita dan anak-anak tak berdosa dengan alasan yang dibuat-buat yang ujung-ujungnya ternyata karena keserakahan mereka ingin menguasai minyak. Lihat pula, bagaimana sadis dan kejamnya Zionis Israel mencaplok dan membantai anak-anak dan wanita di Palestina tak peduli dengan protes dunia. Kini, mereka pun tak segan-segan menggali terowongan di sekitar Masjid Al Aqsha dengan tujuan ingin melenyapkan situs-situs keislaman.
Dari sejumlah fakta dan data di atas, tentunya kita tertantang untuk memberikan solusi dan juga menjadi objek introspeksi mengapa semua itu terjadi? Mengapa negeri ini tidak menjadi bumi yang nyaman lagi untuk di huni? Mengapa kejahatan demi kejahatan seakan hanya menjadi tontonan? Mengapa muslimin lemah, sehingga selalu menjadi korban lawan, mutunya lenyap, nilainya enteng harga dirinya rendah, pribadinya murah?. Sebenarnya penyebabnya sederhana sekali, yakni bahwa semua itu karena kehilangan kunci keberkahan.
Kunci Keberkahan Dalam Perspektif Al Quran
.
Ketika kita membayangkan bumi ini bak rumah besar, di sana ada pintu-pintu yang membukanya membutuhkan kunci. Maksud pintu-pintu itu adalah sejumlah keberkahan yang dicita-citakan kebanyakan orang. Sedangkan, kunci pembuka keberkahan bagi setiap Muslim tak lain adalah petunjuk Allah SWT. Renungkanlah ayat-ayat berikut!
1. Al A’raaf: 96
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al-A'raaf : 96)
2. Al Baqarah:208
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
3. Ali Imran: 102-103
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
4. Al Isra: 1
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Pada QS. Al A’raaf: 56 Allah menjelaskan kunci utama keberkahan hidup adalah iman dan taqwa. Kemudian pada QS. Al Baqarah: 208 merupakan perintah Allah SWT dalam mewujudkan keimanan dan ketaqwaan harus secara kaaffah( keseluruhan), tidak sepotong-sepotong. Juga ayat ini melarang untuk mengikuti pola hidup syaitan yang merupakan musuh nyata. Sementara dalam QS. Ali Imran: 103 Allah memerintahkan menata syari’at Islam secara kaaffah dengan berjama’ah. Berjama’ah dalam konteks kekinian disebut khilafah yang merupakan pranata sosial kemasyarakatan Muslimin yang terpimpin dalam setiap gerak langkah kehidupan mereka sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan Khulafaurrasyidin. Pada QS. Al Isra’:1 merupakan mandat Ilahi dalam menggelorakan perjuangan menggapai keberkahan hidup melalui penumbuhan sensitivitas kepedulian terhadap sesama sebagai wujud solidaritas Ilahiyah. Profesi apapun yang kita jalani saat ini, tak kan punya arti siginifikan di sisi Allah SWT tanpa memiliki dedikasi tinggi dalam membebaskan masjidil Al Aqsha yang merupakan simbol kehormatan dan filter keimanan setiap Muslim. Wallahu a’lam
Posting komentar anda terhadap artikel ini, di sini (
Dilarang menggunakan kata-kata yang tidak sopan)
Posting yang masuk:
|
tanggal
|
nama
|
rank
|
komentar
|