• Login Siswa/Orang Tua

  • NIS
    PIN
     
  • Ekstrakurikuler
  • Masukkan Untuk SMA Alfa Centauri
  • Anda bisa mengirim pesan, masukan atau keluhan kepada seluruh bgn SMA Alfa Centauri
    Nama+HP:
    Pesan:
    Kepada:
  • Anda kami sarankan menggunakan browser mozilla firefox atau opera untuk lebih menikmati website ini

  •  
  • Senin, 1 Februari 2010
  • Memaknai Keberkahan Hidup , (Author: Deni Albar, Ph, Lc.)
  • Untaian Makna Berkah

    Ternyata dalam ingatan kita makna berkah memiliki porsi tersendiri . Saat kata berkah hadir dalam sebuah percakapan, misalnya, tiba-tiba dalam memori kita muncul gambar sebuah keberlimpahan yang bersifat murni kehendak Ilahi. Berkah berupa rezeki: gambar yang segera timbul di benak kita adalah materi yang banyak, berlimpah ruah, atau setidaknya uang yang punya manfaat berlipat. Berkah berupa ilmu: memori kita seakan melayang ke sosok yang pengetahuannya banyak berguna bagi masyarakat.

    Sebaliknya, rezeki tidak berkah atau ilmu tidak berkah mengingatkan kita akan sebuah ketidakbergunaan dan kesia-siaan. “Rezekinya tidak berkah. Lihat saja, meski berduit, anak-anaknya badung,” begitu kata orang. “Ia pandai, tapi ilmunya tidak berkah. Buktinya, pikiran-pikirannya sesat, menyeleweng dari syariah, bahkan kesohor jadi koruptor,” ini juga ungkapan yang biasa terdengar.

    Ingatan kita tentang berkah, yang berasal dari kata البركة, seolah-olah ada begitu saja. Kita hampir tak pernah bertanya sejak kapan gambaran macam itu tumbuh di kepala. Barangkali, kita juga tidak menyadari bahwa kisah tentang berkah yang disampaikan kepada kita selalu yang itu-itu juga. Kisah Rasulullah di masa Perang Tabuk ini, contohnya. Syahdan, para Sahabat dilanda kekurangan bahan makanan. Mereka pun mengusulkan kepada Rasulullah, “Ya Rasul, izinkanlah kami menyembelih unta-unta itu untuk kami makan.” Rasulullah langsung saja mengiyakan. “Lakukanlah,” kata beliau. Tapi, Umar bin al-Khaththab tiba-tiba bersuara. “Ya Rasul,” kata Umar, “kalau engkau mengizinkan maka semakin berkuranglah kendaraan kita. Tapi serulah mereka, para pasukan, untuk mengumpulkan sisa-sisa bekal. Lalu, berkatilah, doailah sisa-sisa bekal itu dengan doa berkah sehingga Allah benar-benarmenurunkan berkah”. Syukurlah, Rasulullah menyetujui usulan Umar. Beliau kemudian membentangkan selembar kulit. Dan diserulah para Sahabat untuk mengumpulkan sisa-sisa bekal mereka. Lalu satu orang memberikan segenggam sorgum. Datang seorang lagi membawa segenggam kurma. Yang lain-lain cuma mengumpulkan sedikit-sedikit saja. Hingga kemudian, terisilah bentangan kulit itu dengan sisa-sisa bekal yang tak banyak. Rasulullah segera memberi doa pada makanan itu dengan doa berkah. “Ambillah dengan masing-masing wadah kalian,” seru Rasulullah kemudian. Para pasukan pun segera mengambil wadah-wadah makanan mereka, dan mengisi semuanya hingga tak ada satu pun wadah yang kosong. “Mereka lalu menyantapnya hingga kenyang, dan itu pun masih meninggalkan sisa,” tutur Abu Sa’id Al-Khudri yang meriwayatkan hadis ini.

    Kisah yang tercatat dalam Shahih Muslim ini menjadi kegemaran para mubalig saat berdakwah tentang berkah. Kisah-kisah serupa lain yang juga kerap diceritakan biasanya tentang Sahabat yang menyambut tamu. Sahabat tersebut semula hanya punya persediaan makan untuk dua orang, tapi karena berkah menjadi cukup untuk lima orang. Juga kisah tentang seorang Sahabat yang mendapat untung berlimpah dari dagangannya. Singkatnya, kisah-kisah ini menjadi “penjaga ingatan” kita tentang berkah: sebuah keberlimpahan murni dari Ilahi.

    Dan kita nyaris tak tahu lagi bahwa البركة, kata yang kita terjemahkan menjadi berkah itu, bermula dari imaji tentang unta yang mendekam. Orang Arab dahulu jamak mengatakan برك البعير, unta itu mendekam. Biasanya, ketika unta kekenyangan setelah menghabiskan pakan, ia segera menekuk lututnya untuk kemudian mendekam di pepasiran dalam waktu yang lama. Atau ketika merasa badannya terlalu panas oleh sengatan matahari, ia pun segera turun ke air, dan mendekam di sana. Unta itu menetap di sana.

    Imaji ini lalu berkembang, dan setiap sesuatu yang “mendekam” dan “menetap” diungkapkanlah dengan kata برك. Maka, tak heran jika البركة suka didefinisikan خيرات ثابتة , nikmat yang “menetap”. Keuntungan hasil perdagangan adalah sebuah nikmat, tapi dia tidak dikatakan berkah jika tidak “menetap” di sana. Jika muncul lalu hilang, itu berarti tidak berkah. Al-Zarqâni dalam syarahnya atas Muwaththa’ Imam Malik, dan tentu banyak ulama lain, sering kali menerangkan bahwa al-barakah berarti الثبوت واللزوم, menetap-di-sana, ada dan berlama-lama di sana.

    Kemudian kita tahu al-barakah tak hanya diartikan الثبوت واللزوم tapi lebih dari itu:والزيادة النموُّ, bertumbuh dan bertambah. Sebuah nikmat yang murni Ilahi tak cukup hanya “menetap” saja, tapi “menetap dan terus bertumbuh”. Dan itulah berkah yang kita kenal. Keberlimpahan pun menjadi pandangan umum ulama-ulama saat menerangkan pengertian al-barakah. Ibnu Abbas menjelaskan al-barakah sebagai al-katsrah fi kulli khair, kelimpahruahan yang ada pada tiap nikmat baik. Al-Zarqâni juga mengutip pandangan ulama-ulama bahwa ¬البركة adalah الزيادة من الخير والكرامة, kenikmatan dan kemurahan yang bertambah-tambah.

    Al-Quran sendiri ketika mau menggambarkan sebuah nikmat Ilahi yang meruah, juga memakai kata ba-ra-ka. Dalam al-Isrâ’ (17): 1, misalnya, disebutkan, “ المسجد الأقصى الذي باركنا حوله ”, Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya. Gambaran tentang Palestina yang mendapat nikmat karena nabi-nabi diturunkan di sana, dan sekaligus bertanah subur, disampaikan dengan kalimat “yang telah Kami berkati”. Begitu juga saat menggambarkan tanah Syam yang subur, berkah menjadi bahasa-penyampai. Dalam al-Anbiya’ (21): 71 tercatat, “الأرض التي باركنا فيها”, sebuah negeri yang Kami berkati, untuk menunjuk Syam. Tentang Syam ini juga direkam dalam Saba’ (34): 18 dengan bahasa, “ القرى الذي باركنا”, negeri-negeri yang telah Kami limpahkan berkah padanya.

    Dan gambaran-gambaran semacam ini tanpa kita sadari telah membentuk pikiran kita tentang berkah. Tahu-tahu, sudah ada begitu saja di kepala kita bahwa berkah adalah sebuah nikmat berlimpah yang murni Ilahi, tak tersentuh kekotoran manusiawi. Gambaran ini mau tak mau lalu memberi arah pada harapan-harapan kita. اللهم بارك لنا فيما رزقتنا … , ya Allah berilah berkah pada rezeki kami …. Berkah selalu memenuhi sudut-sudut kata dalam doa-doa kita.

    Hilangnya Keberkahan

    Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al-A'raaf : 96)

    Bagi setiap insan pasti memiliki mimpi, cita-cita, serta keinginan terhadap keberkahan hidupnya. Dalam bingkai, porsi, status, profesi yang beragam, dan bahkan dalam lintas keyakinan sekalipun, keberkahan senantiasa diharapkan. Misalnya, seorang pejabat ingin berkah hidupnya agar jabatannya dapat langgeng bahkan terus naik. Seorang pedagang ingin dagangannya laris manis,berlimpah untung . Seorang petani ingin hasil pertaniannya bagus. Seorang guru juga ingin ilmunya diserap banyak murid-muridnya supaya dapat menjadi bekal kehidupan mereka kelak. Seorang pelajar ingin ilmunya bertambah serta lulus ujian, bahkan berprestasi, dan masih banyak lagi.

    Fenomena keberkahan di atas, kalau kita teliti rata-rata baru sebatas berkah etimologis. Artinya baru sekedar ingin lebih dalam segala hal. Sehingga wajar kalau teknik memperjuangkan keberkahan tersebut dengan menghalalkan segala cara, tak kenal norma dan etika. Kita menyaksikan, mengapa jabatan yang tinggi, pekerjaan yang layak, uang banyak, rumah yang besar, istri yang jelita atau suami yang tampan, ilmu yang luas tidak mengangkat derajat pemiliknya? Malah menghinakannya? bukan kebahagiaan atau ketentraman yang diperoleh melainkan masalah dan malapetaka.

    Akibat lain dari hilangnya keberkahan, kita saksikan di negeri kita sederet kejahatan dan tindakan tak bermoral semakin merajalela. Hutan dibabat hingga gunung-gunung menjadi gundul. Eksplorasi dan ekspolitasi sumber daya alam besar-besaran yang mengakibatkan banjir,longsor, gempa bumi, serta banyak sekali ekosistem yang terganggu bahkan punah. Lebih memalukan lagi, kejahatan dilakukan tidak hanya oleh orang-orang lapar tetapi justeru oleh kalangan elit, terpelajar dan bahkan pejabat tinggi Negara yang kita kenal dengan koruptor, pencuri uang Negara,penghisap darah rakyat sehingga negeri ini mendapat julukan Negara terkorup no 2 di Asia dan no 5 di dunia. Di sisi lain, kita juga menyaksikan beberapa kejahatan yang cukup membuat kita miris seperti mutilasi, prostitusi yang justeru banyak dilakukan oleh wanita-wanita yang berstatus nona dan pelajar.

    Selain kejahatan local yang kita cermati di atas, kita juga saat ini mengenal kejahatan bangsa terhadap bangsa yang disebut hegemoni. Pejajahan bentuk baru yang tak kalah kejam dan rakusnya di bandingkan imperialis dan kapitalis tempo dulu. Lihat, bagaimana Amerika Serikat menyerang dan membombardir Afganistan da Irak, dengan ratusan ribu korban wanita dan anak-anak tak berdosa dengan alasan yang dibuat-buat yang ujung-ujungnya ternyata karena keserakahan mereka ingin menguasai minyak. Lihat pula, bagaimana sadis dan kejamnya Zionis Israel mencaplok dan membantai anak-anak dan wanita di Palestina tak peduli dengan protes dunia. Kini, mereka pun tak segan-segan menggali terowongan di sekitar Masjid Al Aqsha dengan tujuan ingin melenyapkan situs-situs keislaman. Dari sejumlah fakta dan data di atas, tentunya kita tertantang untuk memberikan solusi dan juga menjadi objek introspeksi mengapa semua itu terjadi? Mengapa negeri ini tidak menjadi bumi yang nyaman lagi untuk di huni? Mengapa kejahatan demi kejahatan seakan hanya menjadi tontonan? Mengapa muslimin lemah, sehingga selalu menjadi korban lawan, mutunya lenyap, nilainya enteng harga dirinya rendah, pribadinya murah?. Sebenarnya penyebabnya sederhana sekali, yakni bahwa semua itu karena kehilangan kunci keberkahan.

    Kunci Keberkahan Dalam Perspektif Al Quran

    . Ketika kita membayangkan bumi ini bak rumah besar, di sana ada pintu-pintu yang membukanya membutuhkan kunci. Maksud pintu-pintu itu adalah sejumlah keberkahan yang dicita-citakan kebanyakan orang. Sedangkan, kunci pembuka keberkahan bagi setiap Muslim tak lain adalah petunjuk Allah SWT. Renungkanlah ayat-ayat berikut!

    1. Al A’raaf: 96

    Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al-A'raaf : 96)

    2. Al Baqarah:208

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

    3. Ali Imran: 102-103

    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

    4. Al Isra: 1

    Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

    Pada QS. Al A’raaf: 56 Allah menjelaskan kunci utama keberkahan hidup adalah iman dan taqwa. Kemudian pada QS. Al Baqarah: 208 merupakan perintah Allah SWT dalam mewujudkan keimanan dan ketaqwaan harus secara kaaffah( keseluruhan), tidak sepotong-sepotong. Juga ayat ini melarang untuk mengikuti pola hidup syaitan yang merupakan musuh nyata. Sementara dalam QS. Ali Imran: 103 Allah memerintahkan menata syari’at Islam secara kaaffah dengan berjama’ah. Berjama’ah dalam konteks kekinian disebut khilafah yang merupakan pranata sosial kemasyarakatan Muslimin yang terpimpin dalam setiap gerak langkah kehidupan mereka sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan Khulafaurrasyidin. Pada QS. Al Isra’:1 merupakan mandat Ilahi dalam menggelorakan perjuangan menggapai keberkahan hidup melalui penumbuhan sensitivitas kepedulian terhadap sesama sebagai wujud solidaritas Ilahiyah. Profesi apapun yang kita jalani saat ini, tak kan punya arti siginifikan di sisi Allah SWT tanpa memiliki dedikasi tinggi dalam membebaskan masjidil Al Aqsha yang merupakan simbol kehormatan dan filter keimanan setiap Muslim. Wallahu a’lam


    Posting komentar anda terhadap artikel ini, di sini (Dilarang menggunakan kata-kata yang tidak sopan)

    Nama
    Email
    Komentar
    Menurut anda artikel ini
     

    Posting yang masuk:
    tanggal nama rank komentar

  • Artikel terkini
  •  
  • Kamis, 19 Agustus 2010
  • PENGANTAR DALAM MEMPELAJARI ILMU PENGETAHUAN (FISIKA) , (Author: Budhi Darma)
  • 1. Menyatukan Fisika dan Metafisika

    Menurut Prof. S.M. Naquib al-Attas, masalah kekeliruan ilmu (corruption of knowledge) adalah merupakan masalah yang paling mendasar dalam kehidupan masyarakat modern. (al-Attas, Islam dan Sekularisme, 2010). Kekeliruan ini muncul akibat menyusupnya paham sekuler yang dibawa oleh peradaban Barat ke dalam ilmu-ilmu kontemporer. Ilmu yang keliru melahirkan tindakan manusia yang keliru pula. Inilah yang disebut oleh al-Attas, pakar Filsafat Sainssebagai loss of adab, yaitu hilangnya kemampuan manusia melakukan tindakan yang benar karena bersandar pada ilmu yang keliru.

    Tindakan yang keliru ini pada akhirnya bukanlah memberikan kebahagiaan, melainkan kesengsaraan kepada manusia. Buktinya, disaat sains dan teknologi sedemikian maju saat ini, umat manusia bukannya berhasil meraih kebahagiaan. Sebaliknya, berbagai keresahan dan kekeringan jiwa serta kerusakan

  • Selengkapnya... ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  •  
  • Kamis, 19 Agustus 2010
  • PENGANTAR DALAM MEMPELAJARI ILMU PENGETAHUAN (FISIKA) , (Author: Budhi Darma)
  • 2. Belajar Fisika Secara Islami

    “Apakah Ilmu Fisika mungkin dipelajari secara tidak Islami?”  Dengan kata lain,  “Apakah ada cara mempelajari Fisika yang Islami atau tidak Islami?”.

    Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, terutama karena ada kesalahfahaman yang menggelayuti banyak orang tentang konsep dan proses Islamisasi ilmu kontemporer. Masih ada saja yang membayangkan bahwa Islamisasi sains berarti membuat “pesawat terbang Islam”, atau “mesin islam”. Atau, masih ada juga yang mengira bahwa Islamisasi hanyalah semata-mata berarti “mencocok-cocokkan” atau menjustifikasi ayat al-Qur’an dengan temuan sains  atau sebaliknya.

    Jika memang ada cara tertentu untuk mempelajari Fisika secara Islami,  pertanyaan selanjutnya, “Apa perlunya mempelajari ilmu Fisika secara Islami? Hal ini dapat dijawab dari dua sisi.

  • Selengkapnya... ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  •  
  • Kamis, 19 Agustus 2010
  • PENGANTAR DALAM MEMPELAJARI ILMU PENGETAHUAN (FISIKA) , (Author: Budhi Darma)
  • 3. Fisikawan Muslim Mengukir Sejarah

    Sejarah membuktikan, kontribusi Ilmuwan Muslim dalam bidang Fisika sangatlah besar. Karya-karya ilmuwan Muslim dalam bidang Fisika, baik yang klasik maupun modern, bisa dikatakan sangat melimpah. 

    Cobalah renungkan, apa yang ada di benak anda ketika mengenal "kamera"? Banyak pelajar Muslim yang mungkin tak kenal sama sekali, bahwa perkembangan teknologi kamera tak bisa dilepaskan dari jasa seorang ahli fisika eksperimentalis pada abad ke-11, yaitu  Ibn al-Haytham. Ia adalah seorang pakar optic, pencetus metode eksperimen. Bukunya tentang teori optic,  al-Manazir, khususnya dalam teori pembiasan, diadopsi oleh Snell dalam bentuk yang lebih matematis.

  • Selengkapnya... ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  •  
  • Rabu, 11 Agustus 2010
  • Cita-cita Yang Tidak Masuk Akal , (Author: M. Son Muslimin, ST.)
  • Biasanya anak-anak yang masih kecil justru memiliki cita-cita yang besar, akan tetapi ketika sudah besar cita-citanya malah mengecil. Why? Mungkin memang setelah besar orang tidak diajarin lagi cara brcita-cita. Atau mungkin karena malu kalau cita-citanya diketahui oleh orang lain.
  • Selengkapnya... ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 1
  •  
  • Selasa, 27 Juli 2010
  • TITIK BALIK PERADABAN KEJATUHAN UMMAT ISLAM , (Author: Budhi Darma)
  • Pada mulanya, ummat Islam jatuh, diiringi dengan kegelapan dan tersingkir dari kedudukan sebagai pemimpin ummat manusia, akhirnya tersisih dari lapangan hidup dan kegiatan di dunia. Peristiwa ini tidak dapat dianggap sebagai satu peristiwa serupa dengan peristiwa-peristiwa yang berulang-ulang terjadi di dalam sejarah tentang jatuhnya bangsa-bangsa, silih bergantinya kekuasaan dan pemerintahan, jatuhnya raja-raja dan kalahnya pasukan-pasukan penyerbu di medan pertempuran, hancurnya peradaban dan kedudayaan, surutnya gelombang politik sesudah musim pasangnya. Sekali-kali tidak.

  • Selengkapnya... ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 1
  •  
  • Kamis, 22 Juli 2010
  • Pasca Pengumuman SNMPTN , (Author: M. Son Muslimin, ST.)
  • Apapun yang terjadi, tidak aka nada artinya, kecuali anda sendiri yang member arti. Jika anda memberikan arti yang positif maka tindakan anda akan positif. Jika anda memberi arti negatif maka tindakan anda akan negatif. Jika seseorang tidak lulus SNMPTN apakah bisa member arti positif? Tentu saja bisa. Jika seseorang lulus SNMPTN apakah bisa member arti negatif? Tentu saja bisa.
  • Selengkapnya... ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 1
  •  
  • Selasa, 6 Juli 2010
  • Bermain Dengan Bilangan , (Author: M. Son Muslimin, ST.)
  • Ternyata beberapa bilangan terlihat cukup aneh. Ada bilangan tertentu, jika dikalikan 2, 3, 4, 5, dan 6 maka akan diperoleh bilangan lain yang angka-angkanya juga tidak berubah. Jadi angka-angkanya masih sama, hanya saja susunannya berubah-ubah. Bilangan-bilangan seperti ini tidak hanya satu macam, tetapi banyak macamnya.
  • Selengkapnya... ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 2
  •  
  • Selasa, 1 Juni 2010
  • keteladanan kunci kesuksesan pendidikan , (Author: Agus Rustandi)
  • Pendidik adalah penebar kebaikan, pendidik adalah pengemban amanah, pendidik merupakan rujukan orang yang membutuhkan saran dan aspirasi, pendidik (yang beriman) menempati posisi yang mulia jauh dari kedudukan orang-orang yang beriman, pendidik selalu dijadikan motivasi dari ide dan saran serta ilmunya jika pendidik mampu menjalankan amanah ilmiah yang harus diembannya sebagai pembawa ilmu
  • Selengkapnya... ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 2
  •  
  • Jum'at, 23 April 2010
  • Menghindari Negative Thinking , (Author: Agus Rustandi)
  • Apakah Anda tahu kepanjangan dari L7?, L7 artinya adalah "letih, lesu, lemah, lelah, lunglai, letoy... ", Anda lengkapi sendiri. Jika Anda sebenarnya secara fisik cukup sehat tapi mengalami gejala yang sama, sangat mungkin Anda telah termakan penyakit lama, yaitu negative thinking. Dan bisa jadi, penyakit itu sudah cukup parah mengendon di dalam diri Anda.

    Ketika negative thinking menjadi jalan hidup, maka jalan hidup itu adalah "normal" menurut kacamata negative thinker yang bersangkutan. Artinya, yang bersangkutan sudah tak bisa melihat atau menyadari lagi bahwa jalan hidupnya, sebenarnya menyimpang dan kurang sehat.

  • Selengkapnya... ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 3
  •  
  • Senin, 29 Maret 2010
  • Kuliah di ITB, sulitkah? , (Author: M. Son Muslimin, ST.)
  • Tahukah anda seberapa sulit kuliah di ITB? Tulisan ini dilatarbelakangi oleh pertanyan seorang siswa tentang sulit mudahnya kuliah di ITB. Saya tidak mengklaim kuliah di ITB itu sulit atau mudah, tetapi hanya memberikan gambaran keadaanya sesuai dengan pengalaman saya sehingga anda sendiri bisa menjawab pertanyaannya.
  • Selengkapnya... ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 2


  • Arsip Artikel
  • WAJAH PERADABAN BARAT 2 , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Resep Sukses Di Segala Bidang , (Author: M. Son Muslimin, ST.) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 2
  • WAJAH PERADABAN BARAT , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 3
  • Kisah Sylvester Stallone Menjadi Aktor , (Author: M. Son Muslimin, ST.) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Cara men-setting cita-cita , (Author: M. Son Muslimin, ST.) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Digital Learning System , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 1
  • Memaknai Keberkahan Hidup , (Author: Deni Albar, Ph, Lc.) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • HIJRAH, PIRANTI SUKSES DUNIA AKHIRAT (Kado Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1431) , (Author: Deni Albar, Ph, Lc.) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Empat Syarat Secara Simultan Sebagai Syarat Kelulusan , (Author: Agus Rustandi) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • PENDIDIKAN DALAM HIDUP , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Nasehat Al-Ghazali Untuk Pelajar , (Author: Agus Rustandi) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Bagaimana Mendapatkan Apa Yang Benar-benar Anda Inginkan? , (Author: M. Son Muslimin, ST.) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Sikap Muslim Menyikapi Gerhana , (Author: Agus Rustandi) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 1
  • Atlantis, Negeri Kaya Raya dan Cikal Bakal Peradaban Dunia Ada di Indonesia ? , (Author: Arif Muchyidin) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Kuliah Tauhid 4 , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Hari Ibu , (Author: Seni H.) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 1
  • Kuliah Tauhid 3 , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Kuliah Tauhid 2 , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 2
  • Kecoa Bermanfaat ??? , (Author: Arif Muchyidin) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 2
  • Agar Mudah Belajar , (Author: Ahmad abdullah) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 72
  • Kuliah Tauhid , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 2 kali, jml komentar: 0
  • Kunci Meretas Kesuksesan , (Author: Deni Albar, Ph, Lc.) ,
    dibaca 36 kali, jml komentar: 4
  • Sukses Dimulai dari Mimpi Besar , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 51 kali, jml komentar: 2
  • Internet, bagai pisau bermata dua , (Author: Dra. Ani Muliani) ,
    dibaca 59 kali, jml komentar: 1
  • Kesuksesan , (Author: Nurhayati, S.Pd) ,
    dibaca 36 kali, jml komentar: 2
  • Penyakit Hati adalah penyakit yang berbahaya , (Author: Siti Fathonah, SE) ,
    dibaca 36 kali, jml komentar: 0
  • prediksi , (Author: Seni H.) ,
    dibaca 23 kali, jml komentar: 1
  • MEMAKNAI UJIAN SEBAGAI TOLOK UKUR KEBERHASILAN , (Author: Drs. Iwan Syarif) ,
    dibaca 59 kali, jml komentar: 3
  • Remaja dan Self-esteem , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 48 kali, jml komentar: 0
  • Pentingnya Identitas , (Author: M. Son Muslimin, ST.) ,
    dibaca 26 kali, jml komentar: 14
  • UMAT ISLAM DAN SAINS , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 33 kali, jml komentar: 1
  • Bulan Bahasa ... ^_^ , (Author: Seni H.) ,
    dibaca 28 kali, jml komentar: 1
  • Ilmu dan Amal untuk sukses , (Author: Agus Rustandi) ,
    dibaca 19 kali, jml komentar: 1
  • Potensi Tubuh dan Otak Kita , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 24 kali, jml komentar: 0
  • Apakah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) itu ? , (Author: Budhi Darma) ,
    dibaca 45 kali, jml komentar: 0
  • Rajin dan Terlatih , (Author: Agus Rustandi) ,
    dibaca 19 kali, jml komentar: 1
  • Learning How To Learn , (Author: Sony Sugema, MBA) ,
    dibaca 31 kali, jml komentar: 3
  • Musik dan Kecerdasan , (Author: Drs. Begot Santoso, MSi.) ,
    dibaca 35 kali, jml komentar: 4
  • © 2009 SMA Alfa Centauri | views: 2