PENDIDIKAN DALAM HIDUP
Hidup sering digambarkan sebagai sebuah ruang
kelas yang besar—suatu lingkungan belajar yang paling utama. Penggambaran ini
cocok sekali dengan Alquran. Sebagai guru yang paling baik, Tuhan tidak hanya
memberi kita alat-alat belajar yang esensial, tapi juga membimbing kita untuk
belajar dan tumbuh melalui penemuan kita sendiri. Karena itulah Alquran
menyatakan bahwa Tuhan "mengajari (manusia) dengan pena—mengajari manusia
apa yang tidak diketahuinya" (QS 96:4-5), walaupun kemahiran manusia akan
baca tulis berkembang secara lamban dan bertahap, di mana pengaruh Tuhan mudah
hilang. Pengajaran Tuhan begitu halus dan efektif sehingga manusia sering
mempertalikan prestasi intelektualnya secara menyeluruh kepada dirinya saja.
Maka, dalam Alquran disebutkan:
Ketahuilah! sesungguhnya manusia benar-benar
melampaui batas, ketika dia melihat dirinya serba cukup. (QS 96:6-7)
Kehidupan dunia membuat kita merasa—yang sebenarnya
keliru—tidak bergantung pada dan jauh dari Tuhan, suatu perasaan yang mendorong
kita untuk belajar dan mengaplikasikan apa yang kita pelajari dengan,
sepertinya, usaha kita sendiri. Hal ini tampak seperti seorang guru yang
meninggalkan ruang kelas dan kemudian memerhatikan dari balik kaca bagaimana
murid-muridnya saling memengaruhi ketika menghadapi persoalan yang harus
dipecahkan: karena tidak dapat lagi bertanya kepada guru, murid-murid dipaksa
untuk memecahkan permasalahan itu secara independen, sementara sang guru
terus-menerus memonitor kemajuan mereka dan hanya turun tangan bila perlu. Ini
merupakan suatu pola pengajaran yang sangat efektif, karena mereka akan
mendapatkan pengalamannya sendiri dalam memecahkan persoalan itu.
Kita tidak hanya merujuk ke ujian-ujian dan kesalahan-kesalahan
yang kita alami pada bidang intelektual, tapi juga pada bidang moral dan
spiritual, sekalipun keduanya dapat dicocokkan dan saling melengkapi. Ketika
suatu kesalahan yang kita buat memiliki implikasi moral, ia menjadi suatu dosa
yang tingkat berat dan bahayanya setara dengan kesadaran kita akan kesalahan
itu (QS 4:17-18). Tetapi jika kita bertobat dan menjauhinya sesudah itu, maka
kesalahan itu dapat membantu perkembangan spiritual kita. Jadi, kita bisa
belajar dan berkembang dari kesalahan-kesalahan kita. Tanpa adanya potensi
untuk menjadi salah, sadar, dan memperbaiki, spiritual kita akan mandek.
Cobaan dunia adalah unsur pokok skema Tuhan yang
lain: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan" (QS 2:155), "Allah menguji apa yang ada di dadamu"
(QS 3:114), "Kamu sungguh-sungguh akan diuji dengan hartamu" (QS
3:186), "Dan Allah akan menguji kamu terhadap apa yang telah Dia berikan
kepadamu; maka berlomba-lombalah dalam (berbuat) kebajikan" (QS 5:48),
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu"
(QS 5:97), "Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan"
(QS 21:35), "Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang
lain" (QS 4:4). Alquran menyatakan bahwa Tuhan menciptakan jagat raya ini
untuk menguji manusia (QS 11:7) dan Tuhan menciptakan kematian dan kehidupan di
bumi untuk maksud yang sama (QS 67:2). Karena ujian-ujian ini tidak memperbaiki
Tuhan, ia tentu diperuntukan bagi perbaikan intelektual dan spiritual manusia.
Karena itu, jagat raya ini dan eksistensi kita di dalamnya dirancang untuk
memberikan kesempatan bagi ujian dan pendidikan ini.
Hari Pembalasan (QS 1:4) dilukiskan sebagai saat
ketika hasil usaha kita diwujudkan. Penggambaran Alquran tentang hari itu
memiliki kemiripan dengan pola akademi. Ia menyerupai hasil ujian akhir atau
hari wisuda di perguruan tinggi. Manusia saat itu akan disaring menjadi tiga
kelompok (QS 56:7-56): Golongan Paling Beriman, yaitu mereka yang paling baik
dalam ketundukan kepada Tuhan dan mereka didekatkan kepada Tuhan; Golongan
Kanan, yaitu orang-orang yang beramal cukup baik di dunia tetapi tidak mencapai
keunggulan Golongan Paling Beriman; Golongan Kiri, yaitu orang-orang yang gagal
dalam hidup dan akan mendapatkan azab di akhirat. Semua buku catatan amal,
kecil maupun besar, akan dikeluarkan. Orang-orang yang berdosa akan sangat
ketakutan ketika mereka mengetahui nasib mereka (QS 18:49). Wajah orang-orang
yang gagal tampak terhina, tertekan, dan kepayahan, sedang mereka yang
berhasil, wajah mereka tampak senang dan berseri-seri (QS 88:1-16). Orang-orang
yang berhasil akan menerima catatan hidupnya di tangan kanan dan dengan riang
akan menunjukkannya kepada golongan lain; orang-orang yang gagal sangat
bersedih dan malu, dan catatannya akan diberikan di tangan kiri dan mereka akan
menyembunyikannya di belakang punggung mereka (QS 69:19-30; 89:10). Orang-orang
yang berhasil, ketika diberikan buku catatan amalnya di tangan kanan, akan dengan
sukacita berlari untuk menunjukkannya kepada keluarga mereka, sedangkan
orang-orang yang gagal akan berteriak dengan sedih (QS 69:19-21).
Penggambaran ini sangat dalam memasuki relung
kesadaran kita, yang sering membuat perbandingan antara hidup dan persiapan
ujian. Kita memahami hidup paling tidak seperti ini: hidup memberi kita
serangkaian ujian tanpa henti, dan keberhasilan serta kegagalan kita dalam
meresponsnya akan terwujudkan dalam kebahagiaan maupun penderitaan kita di
kehidupan mendatang. Penjelasan ini mendukung pandangan bahwa kehidupan dunia
adalah sebuah pentas pendidikan dan pengembangan diri kita.