Memasuki akhir bulan April dan Mei 2010 merupakan saat-saat yang menentukan bagi siswa yang duduk di akhir jenjang pendidikan, dari tingkat SD/MI, SMP/MTs maupun SMA/MA/SMK. Ujian Nasional yang menjadi kriteria kelulusan begitu menyita perhatian banyak pihak. Sebagian besar orang tua merasa khawatir anaknya tidak lulus, ataupun lulus tapi dengan nilai yang tidak mencukupi untuk memasuki sekolah lanjutan yang diharapkan. Berbagai carapun ditempuh melalui pelajaran tambahan/pengayaan dan latihan ujian (Try Out) di sekolah masing-masing, ataupun bagi orang tua yang mampu, rela membayar mahal sebuah lembaga bimbingan belajar.
Mata pelajaran tambahan dan try out di sekolah ataupun latihan soal di lembaga bimbingan belajar hanya berorientasi pada mata pelajaran yang diujinasionalkan saja, sehingga hal tersebut berdampak psikologis terhadap guru-guru, baik yang mengajar mata pelajaran yang diujinasionalkan maupun tidak. Begitupun terhadap siswa.
Bagi guru-guru pengajar mata pelajaran yang diujinasionalkan persiapan ujian merupakan tantangan yang harus mengerahkan seluruh potensi dan profesionalisme mereka dalam mengajar. Namun sebaliknya, bagi guru-guru yang tidak mengajar mata pelajaran yang diujinasionalkan merasa kurang diperhatikan sehingga idealisme mereka dalam mengajar agak menurun karena setinggi apapun nilai siswa dalam menguasai pelajaran tersebut tidak termasuk tolak ukur/standar kelulusan. Begitupun respon siswa yang melaksanakan ujian akhir sekolah baik teori maupun praktik seolah-olah mereka melaksanakannya dengan ‘setengah hati’ sebagai formalitas yang harus dilaluinya guna mendapatkan kelengkapan nilai rapor saja.
Padahal, bila kita tinjau konsep pendidikan yang berorientasi pada “life skill” (keterampilan hidup) tidak membatasi antara mata pelajaran yang diujinasionalkan atau tidak, tapi cenderung lebih berorientasi jangka panjang dalam kehidupan seorang siswa. Bila sepuluh tahun yang akan datang ada siswa yang berhasil menjadi atlet nasional, maka pengetahuan teori dan praktik dasarnya dia peroleh dari guru olahraganya, ataupun menjadi seniman tentu ilmu dasarnya dia perolah dari guru KTKnya, begitupun seseorang yang berhasil menjadi pengusaha, politikus, ataupun profesi lainnya tentunya kontribusi guru-gurunya sangat besar dalam memotivasi dan mengembangkan potensi dasarnya yang pada saat ini belum begitu siswa sadari. Bagaimanapun, sosok seorang pengajar akan memberikan kesan yang mendalam di hati para siswanya.
Oleh karena itu, hendaknya tidak menjadi alasan bagi guru mata pelajaran yang tidak diujinasionalkan untuk mengendurkan idealisme dan profesionalismenya. Bukankah dari sejak awal kita memilih profesi sebagai pendidik niat kita bukan untuk menumpuk harta kekayaan, tapi sebagai lahan ibadah kepada Allah SWT, Supaya di kehidupan akhirat kelak kita punya tabungan dari ilmu yang kita manfaatkan dengan mengajari anak didik kita. Amiin!
Dengan demikian, mengantarkan anak didik kita supaya lulus dalam ujian nasional hanyalah tujuan yang sifatnya sementara, tetapi mengantarkan mereka supaya kelak di kemudian hari lulus dalam menyelesaikan masalah kehidupannya, itulah tolak ukur keberhasilan yang sesungguhnya.
Kembali ke atas
Posting komentar anda terhadap artikel ini, di sini (
Dilarang menggunakan kata-kata yang tidak sopan)
Posting yang masuk:
|
tanggal
|
nama
|
rank
|
komentar
|
|
Kamis, 11 Maret 2010
|
yopi pratama
|
1
|
mungkin unjuga sama-sama menguntungkan bagi semua guru mata pelajaran juga untuk semua murid. karena efek dari UN akan terlihat di saat mendatang.
|
|
Kamis, 11 Maret 2010
|
yopi pratama
|
0
|
mungkin unjuga sama-sama menguntungkan bagi semua guru mata pelajaran juga untuk semua murid. karena efek dari UN akan terlihat di saat mendatang.
|
|
Selasa, 10 November 2009
|
Ak47
|
2
|
"Guru adalah pahlawan tanpa jasa". jasa yang guru kita berikan adalah hak anak untuk mendapat pengajaran dan pengetahuan bahkan dapat merubah dirinya kepada yang lebih baik dari hasil didikan guru kita itu. dan mendidik adalah kewajiban guru yang beliau sadari ketika ia masih menjadi seorang murid. konsekuensi yang dapat memberikan mutualisme antara guru dan siswanya akan membuat negara ini jaya selalu dan menjadi percaturan dunia yang patut diperhitungkan. pemerintah harus mendukung pendidikan anak bangsa ini baik secara moral maupun material. merdekalah secara holistik!!!!
|